Sabtu, 17 Desember 2016

Politik Islam atau Islam Politik

JAKARTA (Arrahmah.com) – Dalam kajian Saturday Forum di Insists Jakarta, Sabtu (8/10/2016), Dr Syamsuddin Arif membedakan antara politik Islam dan Islam Politik.Menurutnya, politik Islam adalah politik yang sesuai dengan ajaran Islam.
“Mengingkari politik islam, berarti mengingkari adanya politisi muslim. As siyasatus syariyah itu adalah politik Islam,”terang ahli filsafat Islam ini.
Sedangkan Islam politik, menurutnya adalah istilah yang datang untuk melecehkan atau mengolok-olok Islam. Disitu akan dipisahkan dengan Islam teologis, Islam sufistik dan lain-lain. Islam politik dianggap sebagai Ideologi atau gerakan yang ingin mendirikan negara Islam atau menerapkan syariat islam dalam sebuah negara. Misalnya partai-partai Islam. Sebagian diantara mereka menyamakan antara Islamis dan islam politik.
Indonesianis Robert Hefner menyebut civil islam lawan dari political islam. Menurutnya yang perlu dikembangkan di negeri-negeri Islam adalah civil islam bukan political islam.Menurutnya agama itu di masjid, gereja dan tempat ibadah lainnya.Agama urusan privat atau dengan Tuhan bukan dengan publik.
Islam, menurut Dr Syamsuddin, mengurusi masalah politik, ekonomi, privat dan public.Tidak bias dipisah-pisahkan seenaknya.Makanya dalam politik Islam para ulama membahas hal-hal pokok yang berkaitan dengan ummat, imam ulul amr, khalifatur Rasulillah, amirul mukminin dan hukm.
Meskipun Islam dan politik telah menyatu sejak awal, dimana Nabi Muhammad SAW bukan sekadar utusan Allah dan pemimpin agama, tetapi juga pemimpin bangsa dan negara, sebagai leader and ruler –meminjam ungkapan Bernard Lewis, kajian politik Islam secara ilmiah, teoritis dan sistematis baru bermula pada kurun kedua Hijriah. Secara umum, pemikiran politik Islam merupakan sintesis dan amalgamasi dari konsep-konsep kepemimpinan yang dikenal dalam masyarakat Arab pra-Islam dan ajaran Islam itu sendiri (yakni al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muḥammad SAW) dengan tradisi bangsa-bangsa yang ditaklukan seperti Syria (Romawi), Mesir, Persia dan Mongol. Sejauh yang dapat dilacak, karya pertama yang secara sistematis membahas masalah-masalah tata negara dari perspektif Islam adalah bab politik dari Kitāb as-Siyar al-Kabīr yang ditulis oleh Muḥammad ibn al-Ḥasan as-Syaybānī (w. 189/804), seorang ulama besar yang lahir di Wāsiṭ dan dibesarkan di Kūfah, Iraq.Ini diikuti oleh bagian pertama (kitāb as-Sulṭān) dari ‘Uyūn al-Akhbār karya Ibn Qutaybah (w. 276/885)8 dan bagian pertama dari kitab al-‘Iqd al-Farīd karya Ibn ‘Abd Rabbih.
Kajian dan pemikiran politik Islam dapat dipetakan dalam tiga wilayah besar.Pertama, kajian tradisional-normatif, yakni pembahasan konsep-konsep dan norma-norma perpolitikan yang diuraikan oleh para ulama.Termasuk dalam kategori ini tiga kitab yang kita sebut di atas. Namun sebenarnya wilayah ini pun masih bisa dipilah lagi menjadi beberapa kategori: (i) ulama mutakallimūn baik dari golongan Ahlus Sunnah (Abu ‘Ḥasan al-Asy’arī, al-Bāqillānī, ‘Abd al-Qāhir alBaghdādī dan seterusnya), Syiah (Ibn Bābawayh, aṭ-Ṭūsī, al-Ḥillī), dan Mu’tazilah (al-Jāḥiẓ, al-Qāḍī ‘Abd al-Jabbār) yang masing-masing menyediakan satu bab khusus dalam karyanya terhadap masalah ‘imāmah’ atau kepemimpinan, apakah ia wajib atau tidak, dengan proses pemilihan ataukah penunjukkan, dan sebagainya; (ii) ulama muḥadditsūn (seperti Imam al-Bukhārī, Muslim, at-Tirmidzī) yang juga menaruh perhatian kepada hadis-hadis politik (contohnya ‘kitāb al-imārah’ dalam Ṣaḥīḥ Muslim); (iii) ulama fuqahā’ (al-Māwardī, al-Farrā’, al-Juwaynī) yang menulis buku khusus untuk mengupas fikih politik dan pemerintahan; (iv) ulama udabā’ (Ibn al-Muqaffa’, Ibn Qutaybah, Ibn ‘Abd Rabbih, al-Jaḥsyiyārī, at-Tsa’ālabī, aṭ- Ṭarṭūsyī); (v) ulama falāsifah (al-Fārābī, Ibn Sīnā, Ibn Rusyd) yang mewakili tradisi pemikiran atau filsafat politik Yunani kuno (Plato dan Aristoteles). Ciri khas dari kajian jenis ini adalah banyaknya aturan dan anjuran yang perlu dipahami dan dilakukan oleh seorang pemimpin agar dihormati oleh bawahannya, dicintai oleh rakyatnya, dan disegani oleh musuh-musuhnya.Walaupun juga diselingi contoh-contoh kasus, namun kebanyakan merupakannya pernyataan-pernyataan induktifnormatif yang masih bisa dan perlu dikukuhkan oleh penelitian empiris atau bahkan uji-coba lapangan.
Kedua, kajian tekstual-historis yang merupakan pendekatan para sarjana Barat atau ahli ketimuran (orientalis).Politik Islam dikaji sebagai pusaka ilmiah (intellectual heritage) tak ubahnya seperti artifak kuno dikaji oleh ahli arkeologi.Politik Islam itu masa lalu, sudah lama mati, dan kini tinggal sejarah. Politik Islam sebagai aksi, proses, regulasi, maupun diskursus, semuanya menarik dikaji sebagai produk sejarah yang mungkin masih relevan dan mungkin tak relevan sama sekali dengan situasi sekarang ini. Kalau memang relevan, mengapa tak ada satupun negara Islam saat ini yang mengacu padanya? Namun jika tidak relevan sama sekali, lantas untuk apa semua itu dikaji? Jawaban para sarjana orientalis untuk pertanyaan ini tidak cukup beragam; dari sekadar memenuhi dahaga intelektual dan memperlihatkan wawasan budaya, hingga untuk mendapatkan cermin bagi merumuskan kebijakan luar negeri dalam hubungan dengan negara-negara Islam.
Sebagai contoh pendekatan tekstual-historis ini adalah kajian pemikiran politik Ibn Taymiyyah oleh Henri Laoust, kajian sistem administrasi negara zaman Abbasiyah ole Ann Lambton, kajian naskah kitab Ibn Rusyd yang menguraikan Politeia (Respublica) Plato oleh Erwin Rosenthal, kajian naskah kitab Ārā’ Ahl alMadīnah al-Fāḍilah karya al-Fārābī oleh Richard Walzer, dan masih banyak lagi. Pendekatan ala orientalis sebenarnya bermanfaat sekali untuk mengenalkan kita pada khazanah pemikiran politik yang dimiliki Umat Islam. Akan tetapi di sisi lain ia seringkali juga membawa orang menerawang jauh di alam utopia. Akibatnya timbul perasaan miris ketika melihat kenyataan tidak seindah pengharapan.
Ketiga, kajian sekular-modernis yang mulai muncul sejak Dunia Islam dijajah dan dikuasai oleh bangsa-bangsa Eropa. Pendekatan ini bertolak dari anggapan atau bahkan keyakinan –yang sesungguhnya boleh jadi keliru- bahwa ketidakmampuan Umat Islam menghadapi kolonialisme Eropa disebabkan oleh sistem politiknya yang lemah, dan ini disebabkan oleh ajaran Islam yang tidak mengenal pemisahan antara agama dan negara. Maka maraklah gagasan sekularisasi sebagaimana dipopulerkan oleh Kemal Ataturk.Tokoh-tokoh cendekiawan pun hanyut dalam arus ini. Dapat kita sebut misalnya ‘Alī ‘Abd alRāziq yang menulis buku al-Islām wa Uṣūl al-Ḥukm (1967), Khālid Muḥammad Khālid, penulis Min Hunā Nabda’ dan ad-Dimuqrāṭiyyah Abadan (1953), Nāmik Kāmil dan ‘Abd al-Ghanī Sanī Bey yang menulis al-Khilāfah wa Sulṭat al-Ummah (1924). Mereka ini tanpa berpikir panjang menelan bulat-bulat aneka konsep dan sistem politik Barat modern seperti demokrasi dan sebagainya.Hanya dengan meniru sistem politik Barat, negara-negara Islam bisa maju dan kuat, begitulah bayangan mereka.Pendek kata, kelompok apologetik ini berupaya mencarikan pembenaran terhadap sistem demokrasi dan konsep negara sekuler agar dapat diterima dan diamalkan oleh Umat Islam.
Menurut Dr Syamsuddin, ada pula yang memaknai Islam politik adalah sikap dan perilaku politik Umat Islam yang didorong oleh keyakinan bahwa Islam perlu berperan di ruang publik dan perlu mempengaruhi kebijakan politik masa kini. Istilah kontroversial ini memang belum lama muncul, dan sengaja dibikin untuk membedakan antara sikap apatis atau pasif sebagian orang Islam dengan sikap sebagian lainnya yang sangat aktif berpolitik.
Menurutnya, dalam mengkaji Islam Politik ini pun kita dapat melihat adanya tiga paradigma berbeda, yaitu paradigma pesimis radikal, paradigma utopian radikal, dan paradigma optimis moderat.
Paradigma pesimis radikal diwakili oleh pengamat politik semacam Oliver Roy, penulis buku The Failure of Political Islam (Kegagalan Islam Politik).Menurutnya, aktivis Islam Politik sebenarnya tidak atau kurang memahami Islam, hanya mengikuti syahwat politik demi menggolkan agenda-agenda mereka sendiri.Artinya, mereka ini tanpa sadar mengkhianati umat Islam dan membelakangi para ulama (anti-clerical). Roy menjuluki mereka neo-fundamentalists yang tidak sama dengan kaum Islamists. Aktivis Islam Politik kalau pun mereka menang pemilu dan berkuasa dapat dipastikan akan gagal menjalankan pemerintahan yang adil dan berwibawa, sebaliknya justru bakal membunuh demokrasi, menindas rakyat, menghancurkan ekonomi, dan merusak hubungan internasional. Demikian ramalan suram dari Roy, yang diamini oleh dan mempengaruhi banyak pengamat termasuk Graham E. Fuller, Greg Fealy, Kikue Hamayotsu, Robert W. Hefner, William Liddle dan Saiful Mujani.
Dalam diskusi mingguan di Insists itu juga ramai didiskusikan tentang istilah demokrasi dan politik Islam di Indonesia. Menurut Dr Syamsuddin, istilah demokrasi sebenarnya sudah selesai dengan adanya Partai Masyumi di Indonesia. Dan yang menarik tokoh politik Islam Mohammad Natsir mengajukan konsep teistik demokrasi yang merupakan lawan ateistik demokrasi.
Read More ->>

Senin, 04 Januari 2016

SURIAH HARI INI

11 Januari 2015                                                                                                  30 Rabi'ul Awal 1437


Kaum muslimin yang berbahagia, Ada sebuah negeri yang bernama Syam. Tentang negeri itu, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan tentang keutamaannya:

“Pergilah ke Syam, karena ia adalah bumi pilihan Allah, Dia memilih hamba-hamba terbaikNya untuk ke sana. Jika kalian tidak mau, maka pergilah ke Yaman kalian dan minumlah dari telaga-telaga kalian. Karena sesungguhnya Allah telah menjamin untukku Syam dan penduduknya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan al-Hakim. Dishahihkan oleh al-Albani).

Kemudian dalam kesempatan lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

“Beruntunglah Syam!” Sahabat bertanya: “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Lalu beliau menjawab: “Karena sungguh malaikat Allah membentangkan sayap-sayapnya kepada negeri itu.” (Lihat Shahih al-Tirmidzi, 3/254)

Bahkan secara spesifik, Nabi kita yang tercinta itu mendoakan negeri Syam dengan doa yang luar biasa. Beliau mengatakan:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا، وَفِي يَمَنِنَا. رواه البخاري

“Ya Allah, berkahilah untuk kami pada negeri Syam kami dan pada negeri Yaman kami.” (HR. Al-Bukhari)

Kaum muslimin yang berbahagia! Lalu mengapa hari ini tiba-tiba kita berbicara tentang Suriah? Karena Suriah adalah bagian dari negeri Syam. Inilah negeri yang dibuka pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khattab. Tidak sedikit sahabat Nabi dan orang-orang shaleh yang berhijrah ke sana, karena keutamaan-keutamaan yang telah disebutkan sebelumnya. Dari negeri yang penuh berkah ini lahir ulama-ulama Islam besar, seperti Imam Nawawi, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan Ibnu Katsir.

Dan hari ini, Suriah adalah negara dengan penduduk mayoritas Ahlussunnah wal jamaah, namun diperintah dan dipimpin oleh Basyar al-Asad, presiden yang berasal dari kelompok minoritas bernama Nushairiyyah atau Isma’iliyah. Tentang kelompok ini, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:

أكفر من اليهود والنصارى ، بل وأكفر من كثير من المشركين ، وضررهم أعظم من ضرر الكفار المحاربين مثل التتار

“...Jauh lebih kufur daripada Yahudi dan Nasrani. Bahkan lebih kufur dari kebanyakan kaum musyrikin, dan bahaya mereka jauh lebih besar dari bahaya kaum kafir yang memerangi Islam, seperti bangsa Tartar...”

Kelompok ini merupakan salah satu sekte penting dalam aliran Syiah, selain kelompok Syiah Rafidhah yang telah merambah Indonesia dengan mengatasnamakan Ahlul Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kelompok Nushairiyyah ini mulai muncul pada abad ke 3 H. Salah satu keyakinan penting mereka adalah meyakini bahwa ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah tuhan. Tetapi tidak cukup itu saja -jamaah sekalian-, Basyar al-Asad yang berkuasa di Suriah itu tidak sekedar berpaham Nushairiyyah, namun juga seorang komunis-sosialis.

Karena itu, tidak mengherankan jika Rusia dan Cina mendukung kekejamannya dengan memveto rancangan keputusan PBB untuk menjatuhkan sanksi kepada Basyar al-Asad. Dan hebatnya, tindakan Rusia dan Cina itu mendapatkan pujian dari Iran.

Jadi mengapa hari ini tiba-tiba kita berbicara tentang Suriah?

Karena sejak rakyat Suriah menuntut turunnya Basyar al-Asad hingga saat ini saja sekurang-kurangnya lebih dari 8343 saudara kita di sana telah gugur sebagai syuhada’ –insya Allah- di tangan manusia keji bernama Basyar al-Asad. Secara terperinci sebagai berikut:

Korban anak-anak: 590 orang. Korban wanita: 442 orang. Korban yang tewas setelah penyiksaan hebat: 336 orang. Korban dari kalangan militer yang deserse dan mendukung kaum muslimin: 644 orang.

Mereka gugur sebagai martir perjuangan untuk menjatuhkan pemerintahan yang telah sekian lama menzhalimi mereka. Rezim biadab ini selama bertahun-tahun lamanya melakukan penindasan, menculik para pemuda, merampas kehormatan para muslimah dan membumihanguskan tempat tinggal mereka.

Salah seorang petinggi militer bahkan mengatakan:

“Kalian tidak usah berharap anak-anak kalian dapat kembali lagi berkumpul dengan kalian! Jika kalian ingin punya anak, buatlah bersama istri-istri kalian! Tapi jika kalian tidak mampu, bawa saja istri-istri kalian kepada kami supaya mereka bisa melahirkan anak lagi!”

Bahkan wanita muslimah di sana berpesan kepada kita semua:

“Jika kalian tidak mampu mengirimkan bantuan untuk menyelamatkan kami, maka kirimkan saja pil-pil anti hamil kepada kami agar kami tidak perlu mengandung anak dari manusia-manusia keji itu!!”

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah! Belum lagi dengan korban yang terluka. Banyak korban terluka yang tidak mungkin dibawa ke rumah sakit, sehingga mereka harus membuat rumah sakit rahasia untuk mengobati korban luka dengan perlengkapan medis seadanya. Mengapa? Karena para tentara Basyar al-Asad tidak pernah ragu untuk menyeret korban terluka itu keluar dari rumah sakit, atau bahkan langsung membunuhnya di ranjang jika dianggap mendukung revolusi penggulingannya. Bahkan seorang dokter mengatakan bahwa para dokter yang mengobati korban luka itupun terancam nyawanya oleh militer keji itu.

Kaum muslimin yang berbahagia! Hari ini, kaum muslimin di Suriah menjadi manusia yang terusir di negerinya sendiri. Di sebuah kota bernama Himsh, 4 sampai 5 keluarga harus berbagi pengungsian dalam 1 rumah pasca bombardir yang dilakukan pasukan al-Asad terhadap kota itu. Untuk sekedar merebahkan badan, mereka harus bergantian tidur di siang dan malam hari karena tidak ada tempat yang cukup untuk itu.

Mereka kekurangan air. Dan untuk itu mereka hanya mengandalkan air hujan yang turun. Dan dengan mata kepala mereka sendiri, mereka harus menyaksikan kerabat mereka mati perlahan-lahan karena kekurangan obat.

Mereka menderita kelaparan. Mereka ketakutan. Seorang dari mereka mengatakan: “Kami hanya bisa memandangi korban terluka menjemput kematiannya. Yang bisa kami lakukan hanyalah mencoba menutupi luka itu dengan kain seadanya, dan selanjutnya hanya bisa melihat mereka pelan-pelan menjemput kematiannya.”

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah! Tidak hanya itu yang dilakukan oleh tentara-tentara terkutuk itu. Mereka juga memaksa rakyat Suriah untuk sujud di atas gambar Sang Presiden bengis itu. Yah, kita semua tahu bahwa kita tidak dibenarkan sujud kecuali kepada Allah Azza wa Jalla. Bahkan yang lebih hebat dari itu, para tentara itu memaksa dan menyiksa para pemuda untuk mengucapkan:

“La ilaha illah Basysyar!” alias “Tidak ada tuhan selain Basyar”! La haula wa la quwwata illa billah!

Sungguh sebuah kekejian dan kebejatan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Jamaah sekalian! Kita tidak tahu sandiwara apa yang sedang dimainkan di Suriah. Rusia dan Cina menggunakan hak vetonya di PBB, lalu Iran memuji sikap itu. Bahkan beberapa kapal perang Iran telah merapat di pelabuhan Suriah. Iran –sebagaimana juga Amerika- yang beberapa waktu lalu berkoar-koar mendukung revolusi rakyat di Libia, Mesir dan Yaman; mengapa hari ini mereka justru mendukung Basyar al-Asad, presiden yang membantai rakyatnya sendiri?

Entahlah. Tapi yang pasti, pemerintah Suriah yang katanya menentang Israel tapi tidak punya senjata untuk menghantamnya, hari ini ternyata punya begitu banyak senjata untuk membantai rakyatnya sendiri yang mayoritas Ahlussunnah!

Sama seperti Iran, yang berkoar-koar ingin menghancurkan Israel dan Amerika sejak belasan tahun lalu, namun hingga kini tak satupun omong besar itu terbukti. Tapi anehnya, mereka mampu membombardir kaum muslimin di Iraq dan Yaman.

Sebagaimana kita juga bertanya-tanya: mengapa media-media cetak dan elektronik di Indonesia tidak terlalu tertarik mengangkat isu ini, seperti semangat mereka dulu menayangkan dan memberitakan revolusi Libia dan Mesir?

Entahlah. Tapi tragedi Suriah akan menyingkap begitu banyak rahasia yang selama ini tersembunyi, insya Allah!

Allah pasti akan menolong saudara-saudara kita di Suriah. Perlawanan terhadap rezim yang zhalim itu terus terjadi di sana dan menunjukkan hasil yang menggembirakan, insya Allah. Sebab jika malam semakin gelap, pertanda tidak lama lagi sinar mentari akan hadir menerangi bumi.

Jika kezhaliman telah mencapai titik kulminasinya, maka itu pertanda ia tidak lama lagi akan hancur. Begitulah Sunnatullah. Fir’aun, nenek moyang para penguasa zhalim, telah menunjukkan itu, bahkan diabadikan di dalam al-Qur’an.

Namun pertanyaannya adalah: jika kelak Allah bertanya kepada kita: “Apa yang telah engkau lakukan untuk mereka?”, bagaimanakah kita akan menjawabnya, hadirin sekalian?

Setidaknya panjatkanlah sebaris doa untuk mereka.

Kaum muslimin yang berbahagia! Tragedi Suriah yang pasti mengajarkan kepada kita bahwa umat Tauhid ini tidak akan mati. Benih yang ditanam oleh Rasulullah akan selalu hidup, menebarkan aroma dan pesonanya, menegaskan aqidah dan keyakinannya bahwa: La ilaha illallah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.

Hari ini, saudara-saudara kita di Suriah dalam tuntutannya selalu meneriakkan: “Kami tidak akan ruku’ kecuali pada Allah!”

“Kami kufur kepada Rusia, Cina dan Iran, tapi kami beriman kepada Allah Rabbul ‘alamin!” Sekali lagi, doakanlah saudara-saudara kita kaum muslimin di sana, di bumi yang penuh berkah, Syam.

Sumber : http://www.eramuslim.com/khutbah-jumat/suriah-berdarah-suriah-memanggil-kita.htm
Read More ->>