Minggu, 16 Agustus 2015

MENGUNGKAP KEBENARAN SEJARAH

Sejarah Lahirnya GAM (Gerakan Aceh Merdeka)

Langsa, 17 Agustus 2015 | 12:00 WIB

Bicara GAM (Gerakan Aceh Merdeka), mau tak mau, harus bicara kelahiran negara Republik Indonesia. Sebab, dari situlah kisah gerakan menuntut kemerdekaan dimulai. Lima hari setelah RI diproklamasikan, Aceh menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap kekuasaan pemerintahan yang berpusat di Jakarta. Dibawah Residen Aceh, yang juga tokoh terkemuka, Tengku Nyak Arief, Aceh menyatakan janji kesetiaan, mendukung kemerdekaan RI dan Aceh sebagai bagian tak terpisahkan. Pada 23 Agustus 1945, sedikitnya 56 tokoh Aceh berkumpul dan mengucapkan sumpah. ”Demi Allah, saya akan setia untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia sampai titik darah saya yang terakhir.”
Kecuali Mohammad Daud Beureueh, seluruh tokoh dan ulama Aceh mengucapkan janji itu. Pukul 10.00, Husein Naim dan M Amin Bugeh mengibarkan bendera di gedung Shu Chokan (kini, kantor gubernur). Teuku Nyak Arief Gubernur di bumi Serambi Mekkah.
Tetapi, ternyata tak semua tokoh Aceh mengucapkan janji setia. Mereka para hulubalang, prajurit di medan laga. Prajurit yang berjuang melawan Belanda dan Jepang. Mereka yakin, tanpa RI, mereka bisa mengelola sendiri negara Aceh. Inilah kisah awal sebuah gerakan kemerdekaan. Motornya adalah Daud Cumbok. Markasnya di daerah Bireuen. Tokoh-tokoh ulama menentang Daud Cumbok. Melalui tokoh dan pejuang Aceh, M. Nur El Ibrahimy, Daud Cumbok digempur dan kalah. Dalam sejarah, perang ini dinamakan perang saudara atau Perang Cumbok yang menewaskan tak kurang 1.500 orang selama setahun hingga 1946. Tahun 1948, ketika pemerintahan RI berpindah ke Yogyakarta dan Syafrudin Prawiranegara ditunjuk sebagai Presiden Pemerintahan Darurat RI (PDRI), Aceh minta menjadi propinsi sendiri. Saat itulah, M. Daud Beureueh ditunjuk sebagai Gubernur Militer Aceh.
Oleh karena kondisi negara terus labil dan Belanda merajalela kembali, muncul gagasan melepaskan diri dari RI. Ide datang dari dr. Mansur. Wilayahnya tak cuma Aceh. Tetapi, meliputi Aceh, Nias, Tapanuli, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkalis, Indragiri, Riau, Bengkulu, Jambi, dan Minangkabau. Daud Beureueh menentang ide ini. Dia pun berkampanye kepada seluruh rakyat, bahwa Aceh adalah bagian RI. Sebagai tanda bukti, Beureueh memobilisasi dana rakyat. Setahun kemudian, 1949, Beureueh berhasil mengumpulkan dana rakyat 500.000 dolar AS. Uang itu disumbangkan utuh buat bangsa Indonesia. Uang itu diberikan ABRI 250 ribu dolar, 50 ribu dolar untuk perkantoran pemerintahan negara RI, 100 ribu dolar untuk pengembalian pemerintahan RI dari Yogyakarta ke Jakarta, dan 100 ribu dolar diberikan kepada pemerintah pusat melalui AA Maramis. Aceh juga menyumbang emas lantakan untuk membeli obligasi pemerintah, membiayai berdirinya perwakilan RI di India, Singapura dan pembelian dua pesawat terbang untuk keperluan para pemimpin RI. Saat itu Soekarno menyebut Aceh adalah modal utama kemerdekaan RI.

Setahun berlangsung, kekecewaan tumbuh. Propinsi Aceh dilebur ke Propinsi Sumatera Utara. Rakyat Aceh marah. Apalagi, janji Soekarno pada 16 Juni 1948 bahwa Aceh akan diberi hak mengurus rumah tangganya sendiri sesuai syariat Islam tak juga dipenuhi. Intinya, Daud Beureueh ingin pengakuan hak menjalankan agama di Aceh. Bukan dilarang. Beureueh tak minta merdeka, cuma minta kebebasan menjalankan agamanya sesuai syariat Islam. Daud Beureueh pun menggulirkan ide pembentukan Negara Islam Indonesia pada April 1953. Ide ini di Jawa Barat telah diusung Kartosuwiryo pada 1949 melalui Darul Islam. Lima bulan kemudian, Beureueh menyatakan bergabung dan mengakui NII Kartosuwiryo. Dari sinilah lantas Beureueh melakukan gerilya. Rakyat Aceh, yang notabene Islam, mendukung sepenuhnya ide NII itu. Tentara NII pun dibentuk, bernama Tentara Islam Indonesia (TII). Lantas, terkenallah pemberontakan DI/TII di sejumlah daerah. Beureueh lari ke hutan. Cuma, ada tragedi di sini. Pada 1955 telah terjadi pembunuhan masal oleh TNI. Sekitar 64 warga Aceh tak berdosa dibariskan di lapangan lalu ditembaki. Aksi ini mengecewakan tokoh Aceh yang pro-Soekarno. Melalui berbagai gejolak dan perundingan, pada 1959, Aceh memperoleh status propinsi daerah istimewa.
Beureueh merasa dikhianati Soekarno. Bung Karno tidak mengindahkan struktur kepemimpinan adat dan tak menghargai peranan ulama dalam kehidupan bernegara. Padahal, rakyat Aceh itu sangat besar kepercayaannya kepada ulama. Gerilya dilakukan. Tetapi, Bung Karno mengerahkan tentaranya ke Aceh. Tahun 1962, Beureueh dibujuk menantunya El Ibrahimy agar menuruti Menhankam AH Nasution untuk menyerah. Beureueh menurut karena ada janji akan dibuatkan UU Syariat Islam bagi rakyat Aceh (baru terwujud tahun 2001).

GAM lahir di era Soeharto. Saat itu, sedang terjadi industrialisasi di Aceh. Soeharto benar-benar mencampakkan adat dan segala penghormatan rakyat Aceh. Efek judi melahirkan prostitusi, mabuk-mabukan, bar, dan segala macam yang bertentangan dengan Islam dan adat rakyat Aceh. Kekayaan alam Aceh dikuras melalui pembangunan industri yang dikuasai orang asing melalui restu pusat. Sementara rakyat Aceh tetap miskin. Pendidikan rendah, kondisi ekonomi sangat memprihatinkan. Melihat hal ini, Daud Beureueh dan tokoh tua Aceh yang sudah tenang kemudian bergerilya kembali untuk mengembalikan kehormatan rakyat, adat Aceh dan agama Islam. Pertemuan digagas tahun 1970-an. Mereka sepakat meneruskan pembentukan Republik Islam Aceh, yakni sebuah negeri yang mulia dan penuh ampunan Tuhan. Kini mereka sadar, tujuan itu tak bisa tercapai tanpa senjata.

Lalu diutuslah Zainal Abidin menemui Hasan Tiro yang sedang belajar di Amerika. Pertemuan terjadi tahun 1972 dan disepakati Tiro akan mengirim senjata ke Aceh. Zainal tak lain adalah kakak Tiro. Sayang, senjata tak juga dikirim hingga Beureueh meninggal. Hasan Asleh, Jamil Amin, Zainal Abidin, Hasan Tiro, Ilyas Leubee, dan masih banyak lagi berkumpul di kaki Gunung Halimun, Pidie. Di sana, pada 24 Mei 1977, para tokoh eks DI/TII dan tokoh muda Aceh mendirikan GAM. Selama empat hari bersidang, Daud Beureueh ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi. Sementara Hasan Tiro yang tak hadir dalam pendirian GAM itu ditunjuk sebagai wali negara. GAM terdiri atas 15 menteri, empat pejabat setingkat menteri dan enam gubernur. Mereka pun bergerilya memuliakan rakyat Aceh, adat, dan agamanya yang diinjak-injak Soeharto.

Miliki Pabrik Senjata dan Berlatih Di Libya

Setelah didirikan, GAM mendapat dukungan rakyat. Hubungan dengan dunia internasional terus dibangun. Kekuatan bersenjata pun disusun. Berapa anggota GAM, bagaimana kekuatannya, jaringan internasionalnya, dan dananya?
Masih ingat deadline maklumat pemerintah 12 Mei 2003 lalu. Hingga batas waktu ultimatum, pemerintah tak juga mengeluarkan keputusan sebagai tanda awal operasi militer ke Aceh. Konon, saat itu pemerintah menghitung kekuatan TNI di sana. Ada kekhawatiran, TNI bakal dilibas GAM melalui perang gerilya. Secara tidak langsung, kabar ini menyiratkan ketangguhan kekuatan bersenjata GAM. Sesungguhnya jumlah anggota GAM itu sebagian besar rakyat Aceh. Filosofinya begini. Jika rakyat terus ditindas, maka seluruh rakyat itu akan bangkit melawan. Dan, hal seperti inilah yang terjadi di bumi Serambi Mekah itu. Perlawanan GAM mendapat simpati luar biasa dari rakyat Aceh. Rakyat yang lama ternista dan teraniaya. Sambil berkelakar, Panglima Tertinggi GAM dan Wakil Wali Negara Aceh Tengku Abdullah Syafei (alm) sempat mengatakan, bayi-bayi warga Aceh telah disediakan senjata AK-47 oleh GAM. Mereka akan dididik dan dilatih sebagai tentara GAM dan segera pergi berperang melawan TNI.

Sejatinya, basis perjuangan GAM dilakukan dalam dua sisi, diplomatik dan bersenjata. Jalur diplomasi langsung dipimpin Hasan Tiro dari Swedia. Opini dunia dikendalikan dari sini. Sementara basis militer dikendalikan dari markasnya di perbatasan Aceh Utara-Pidie. Seluruh kekuatan GAM dioperasikan dari tempat ini. Termasuk, seluruh komando di sejumlah wilayah di Aceh dan di beberapa negara seperti Malaysia, Pattani (Thailand), Moro (Filipina), Afghanistan, dan Kazakhstan. Tetapi, kerap GAM menipu TNI dengan cara mengubah-ubah tempat markas utamanya. Di seluruh Aceh, GAM membuka tujuh komando, yaitu komando wilayah Pase Pantebahagia, Peurulak, Tamiang, Bateelik, Pidie, Aceh Darussalam, dan Meureum. Masing-masing komando dibawahi panglima wilayah.
Sejak berdiri tahun 1977, GAM dengan cepat melakukan pendidikan militer bagi anggota-anggotanya. Setidaknya tahun 1980-an, ribuan anak muda dilatih di camp militer di Libia. Saat itu, Presiden Libia Mohammar Khadafi mengadakan pelatihan militer bagi gerakan separatis dan teroris di seluruh dunia. Hasan Tiro berhasil memasukkan nama GAM sebagai salah satu peserta pelatihan. Pemuda kader GAM juga berhasil masuk dalam latihan di camp militer di Kandahar, Afghanistan pimpinan Osama bin Laden. Gelombang pertama masuk tahun 1986, selanjutnya terus dilakukan hingga akhir 1990. Selama DOM, pengiriman tersendat. Tetapi, angkatan 1995-1998 sudah mendapat latihan intensif. Ketika DOM dicabut, prajurit dari Libia ini ditarik ke Aceh. Jumlahnya sekitar 5.000 personel dan dijadikan pasukan elite GAM (semacam Kopassus). Jalur ke Libia memang agak mudah. Dari Aceh, para pemuda Aceh itu dikirim melalui Malaysia lalu menuju Libia.

Jalur lainnya dari Aceh lalu ke Thailand menuju Afghanistan dan melanjutkan ke Libia. Dari jalur ketiga, yakni melalui Aceh menuju Filipina Selatan dan ke Libia. Tiga jalur penting ini hampir selalu lolos dari jangkauan petugas imigrasi, polisi, dan patroli TNI-AL. Di era Syafei hingga sekarang dipegang Muzakkir Manaf, personel GAM terdiri atas pasukan tempur, intelijen, polisi, pasukan inong baleh (pasukan janda korban DOM) dan karades (pasukan khusus) serta Lasykar Tjut Nyak Dien (tentara wanita). Wakil Panglima GAM Wilayah Pase Akhmad Kandang (alm) pernah mengklaim, jumlah personel GAM 70 ribu. Anggota GAM 490 ribu. Jumlah itu termasuk jumlah korban DOM 6.169 orang.
Sumber resmi Mabes TNI cuma menyebut sekitar enam ribu orang. Mantan Menhan Machfud MD menyebut 4.869 personel. Dari jumlah itu, 804 di antaranya dididik di Libia dan 115 dilatih di Filipina — Moro. Persediaan senjatanya terdiri atas pistol, senapan, GLM, mortir, granat, pelontar granat, pelontar roket, RPG, dan bom rakitan. Jenis senapan di antaranya AK-47, M-16, FN, Colt, dan SS-1. Dari mana persenjataan itu diperoleh? Ada jalur internasional yang menyuplainya. Sejumlah negara disebut antara lain, gerakan separatis Pattani Thailand, Malaysia, gerakan Islam Moro Filipina, eks pejuang Kamboja, gerakan separatis Sikh India, gerakan Elan Tamil, dan Kazhakstan serta Libia dan Afghanistan. GAM juga membuat pabrik senjata. Di antaranya, di Kreung Sabe, Teunom — Aceh Barat — dan di Lhokseumawe dan Nisau-Aceh Utara serta di Aceh Timur. Jenis senjata yang diproduksi seperti bom, amunisi, senjata laras panjang dan pendek, pabrik senjata ini bisa dibongkar pasang sesuai dengan kondisi medan. Jika akan diserbu TNI, pabrik senjata telah dipindahkan ke daerah lain. Para ahli senjata disekolahkan ke Afghanistan dan Libia.

Senjata-Senjata GAM juga berasal dari Jakarta dan Bandung. Pasar gelap senjata ini dilakukan oleh oknum TNI dan Polri yang haus kekayaan. Bagi GAM, asal ada senjata, uang tidak masalah. Sebab, faktanya GAM ternyata memiliki sumber dana yang sangat besar. Jumlah pembelian ke oknum TNI/Polri ini bisa trilyunan rupiah. Sebuah penggerebekan tahun 2000 oleh Polda Metro Jaya sempat menemukan kuitansi Rp 3 milyar untuk pembelian senjata GAM di pasar gelap dari oknum TNI. Kini, senjata yang dimiliki TNI juga dimiliki GAM. Yang tak dimiliki GAM adalah senjata berat. Sebab, sifatnya yang lamban. Prinsip GAM, senjata itu harus memiliki mobilitas tinggi, mudah dibawa ke mana-mana. Sebab, strategi perangnya yang hit and run. GAM bahkan mengaku memiliki senjata yang lebih modern daripada TNI. Misalnya, senjata otomatis yang dimiliki para karades. Senjata otomatis, berbentuk kecil mungil itu bisa tahan berhari-hari dalam air. Anggota karades inilah yang biasa menyusup ke kota-kota dan menyergap anggota TNI/Polri yang teledor.

Membeli senjata tentu dengan uang melimpah. Sebab, harganya yang tak murah. Lantas, dari mana mereka mendapatkan dana? GAM memiliki donatur tetap dari pengusaha-pengusaha Aceh yang sukses di luar negeri. Di antaranya, di Thailand, Malaysia, Singapura, Amerika, dan Eropa. Dana juga didapatkan dari sumbangan wajib yang diambil dari perusahaan-perusahaan lokal dan multinasional di Aceh. Sebagai gambaran, tahun 2000 lalu, GAM meminta sumbangan wajib kepada seorang pengusaha lokal bernama Tengku Abu Bakar sebesar Rp 100 juta. Abu Bakar diberi surat berkop Neugara Atjeh-Sumatera tertanggal 15 Februari 2000 yang ditandatangani oleh Panglima GAM Wilayah Aceh Rajek Tengku Tarzura. Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyebut Pupuk Iskandar Muda pernah menyetor Rp 10 milyar ke GAM untuk biaya keamanan. GAM kerap melakukan gangguan bila tidak mendapatkan sumbangan wajib tersebut. Makanya, setiap bulan, GAM mendapat upeti dari para pengusaha ”sahabat GAM” itu. Sistem komunikasi GAM juga sangat canggih. Sistem komunikasi berlapis dilakukan GAM sebagai benteng pertahanan dan propaganda. Selain handytalky, GAM juga memiliki radio tranking, radar dan telepon satelit. GAM juga memiliki penyadap telepon. Acap kali gerakan TNI/Polri dimentahkan aksi-aksi penyadapan ini. Penggerebekan sering kali gagal total.
Sistem organisasinya yang disusun dengan sistem sel juga membantu GAM survive. Tidak mudah menemukan markas GAM. Meski, ada sebagian anggota GAM yang ditangkap. Antara anggota dan pejabat satu dengan yang lain kadang tidak berhubungan, tidak saling mengenal. Ketua Umum Forum Perjuangan dan Keadilan Rakyat Aceh (FOPKRA) Shalahuddin Al Fatah menuturkan, sejak zaman Belanda, rakyat Aceh memang tidak pernah menang. Tetapi, rakyat Aceh tidak pernah ditaklukkan. Fakta sejarah pula, gerakan rakyat Aceh menentang pusat tidak pernah menang. Tetapi, TNI tidak pernah bisa menaklukkan mereka.[]
Sumber [ikhwanesia.com]

Read More ->>

Rabu, 01 April 2015

Gambaran Padang Mahsyar Yang Digambarkan Oleh Rasulullah SAW



 Rosulullah SAW. bersabda

“Semua bagian tubuh manusia akan hancur kecuali satu tulang, yaitu ujung ekornya (ajab al-dzanb). Dari tulang inilah dibangunkan kembali penciptaannya pada hari kiamat.”

Hadist sohih ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Dalam riwayat Abu Ya’la dan Al-Hakim dari Abu Said Al-Khudri, para sahabat lalu bertanya :
“Wahai Rasulullah, bagaimanakah rupa ujung ekor itu?” Baginda menjawab,“Seperti biji sawi (habbat khardal).” Maknanya tulang itu sangat kecil sehingga hampir tak terlihat oleh mata biasa."

Beberapa hadist menjelaskan bahwa proses pengembalian makhluk dimulai dengan hujan yang sangat lebat menyirami bumi selama beberapa hari. Air itu menumbuhkan tulang bakal makhluk yang terpendam di bawah tanah ini tumbuh dan berkembang. Rosulullah SAW. bersabda: “Mereka kemudian tumbuh bagaikan sayuran di musim hujan.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Apabila hari kebangkitan yang ditentukan telah tiba, Israfil meniup sangkakalanya (sur) yang mengembalikan setiap roh ke jasad. Manusia dan makhluk-makhluk Allah yang lain mulai tersadar dari tidur yang panjang. Mereka berkata, “Duhai celakalah kami. Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?” seperti yang diceritakan dalam surah Yasin: 52.

Rosulullah SAW. bersabda: “Semua manusia akan dibangkitkan dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitankan sebagaimana keadaan mereka ketika pertama kali diciptakan.” Rosulullah SAW lalu membaca: Sebagaimana kami menciptakan (manusia) pertama kali, maka kami akan mengembalikannya. Itu merupakan janji yang akan kami laksanakan.” (QS Al-Anbiya: 104).


Padang Mahsyar      Tidak lama kemudian, semua makhluk bergerak dalam rombongan besar yang terdiri dari jutaan manusia menuju ke satu arah. “Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tertunduk.” (QS Al-Nazi’at: 8-9). Sebagian mereka berjalan dengan kakinya, sebagian yang lain merangkak dengan tangannya, bahkan ada juga yang berjalan “dengan wajahnya”. Seseorang bertanya kepada Rosulullah SAW “Bagaimana seorang kafir berjalan dengan wajahnya?” Baginda menjawab,“Bukankah (Allah) yang membuatnya dapat berjalan dengan kaki, maka Dia juga mampu membuatnya berjalan dengan wajah?” Hadis riwayat Muslim.

Mereka kemudian berkumpul di Mahsyar; sebuah padang luas yang tanahnya putih bak pasir di pinggir pantai, datar tanpa bukit dan lubang. Tak ada bangunan ataupun bendera yang menunjukkan pemilikan. Al-Ghazali berkata,“Janganlah engkau mengira bahwa tanah itu seperti tanah di dunia ini. Tidak ada kesamaan antara keduanya melainkan namanya saja.”

Ibn Mas’ud berkata, “Tanah pada hari itu semuanya (dipenuhi) api, dan Surga di seberangnya telah terlihat bersama para bidadari dan cawan-cawan minumannya.” Diriwayatkan oleh Imam Waki’ dalam kitab “Al-Zuhd”.

Keringat      Bayangkan jutaan manusia sejak zaman Nabi Adam hingga generasi terakhir berkumpul dan bersesak-sesakan. Di bawah sinar matahari yang sangat panas, tanah yang membara, ditambah lagi suasana hati yang dipenuhi ketakutan, pada saat itu tubuh manusia basah dengan keringat. Dalam hadis Muslim dari Al-Miqdad bin Al-Aswad, Nabi SAW bersabda, “Pada hari kiamat matahari didekatkan kepada manusia sejarak satu mil. Maka semua manusia tenggelam di dalam keringatnya sesuai dengan amal perbuatannya (di dunia). Sebagian mereka tenggelam hingga ke mata kaki, sebagian yang lain hingga ke pinggangnya dan sebagian yang lain hingga ke mulutnya.”

Imam Ibn Abi Jamrah dalam Syarh Shohih Al-Bukhari berkata, “Manusia yang paling tersiksa dengan keringatnya ini adalah orang-orang kafir, kemudian (Muslim) pelaku dosa-dosa besar, dan seterusnya.”

Imam Al-Ghazali berkata dalam Ihyak Ulumiddin, “Ketahuilah setiap titis keringat yang tidak pernah dikeluarkan dalam bekerja di jalan Allah, dalam haji, jihad, puasa, tahajud, membantu Muslim atau beramar makruf nahi munkar, maka keringat itu akan dikeluarkan oleh rasa malu dan takut pada hari kiamat nanti.”

Balasan Amal sebelum Hisab      Singkat kata, setiap orang pada hari kebangkitan ini merasa sangat tersiksa jauh sebelum mereka dihisab. Setiap orang merasakan sangat haus, lapar, penat, takut, sedih, bimbang stres dan berbagai kesusahan dzohir dan batin serta lain-lain yang belum dapat kita bayangkan pada saat ini. Mereka terus dalam keadaan itu bertahun-tahun lamanya hingga Allah berkenan memulakan proses hisab dan penghitungan amal. Al-Ghazali berkata,“Pikirkanlah suasana panjang dan beratnya penungguan hari itu agar dengan itu terasa ringan bagimu dalam bersabar meninggalkan maksiat sepanjang hidupmu yang singkat ini.”

Pada hari itu, sekecil apa pun amal kebaikan yang pernah dilakukan seseorang di dunia sangat berharga untuk melepaskan sebagian dari siksaan yang dideritanya ini. Rosulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melepaskan seorang mukmin dari kesusahan, maka Allah akan melepaskan darinya satu daripada kesusahan yang terdapat pada hari kiamat.” (Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah).

Daripada Abu Qatadah bahwa Nabi SAW. bersabda, “Barang siapa yang menginginkan agar Allah menyelamatkannya daripada kesusahan (yang dialami) pada hari Kiamat, maka bantulah orang yang dalam kesusahan, atau kurangilah kesusahannya.” (Riwayat Muslim).

Daripada ‘Uqbah bin ‘Amir bahawa Nabi SAW bersabda, “Seseorang akan berteduh di bawah naungan sedekahnya hingga waktu pengadilan (hisab) tiba.”Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di “Musnad”-nya.

Al-Hafiz Ibn Abi Al-Dunya meriwayatkan daripada Ibn Mas’ud, “Semua manusia dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan telanjang, sangat lapar, sangat haus dan sangat penat. Barang siapa yang pernah memberikan pakaian karena Allah, maka Allah akan memberinya pakaian. Barang siapa yang pernah memberi makan karena Allah, maka Allah akan memberinya makanan. Barang siapa yang pernah memberi minum karena Allah, maka Allah akan memberinya minuman. Dan barang siapa yang pernah memaafkan karena Allah, maka Allah akan memaafkannya.”

Ulama tabiin kenamaan di kota Mekah, Sufyan bin ‘Uyainah, berkata, “Tidak ada nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya melebihi kebesaran kalimat tauhid: La ilaha illallah. Sebab kalimat ini di akhirat ibarat air sejuk di dunia.”Diceritakan oleh Imam Al-Hafiz Jamaluddin Al-Mizzi dalam Tahdzib Al-Kamal fi Asma Al-Rijal.

Di bawah Naungan Allah      Sementara itu, apabila kebanyakan manusia dalam kesusahan, terdapat orang-orang tertentu yang seolah-olah tidak mengalami sebarang siksaan apa pun. Mereka adalah orang-orang yang di dunia telah mengalami kesusahan sekejap demi menjaga agama dan prinsipnya, ketika kebanyakan manusia pada saat itu menikmati keseronokan hawa nafsunya.

Rosulullah SAW bercerita tentang mereka, “Tujuh golongan yang berada di bawah naungan Allah ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya: pemimpin yang adil, pemuda yang tubuhnya sentiasa menyembah Allah, seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid jika ia keluar hingga kembali semula, dua orang yang saling mencintai karena Allah: mereka berjumpa dan berpisah karena-Nya, seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian hingga meneteskan air mata, seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita cantik dan terhormat namun menolaknya dengan berkata: aku takut kepada Allah, dan seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya.”

Hadist shohih yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim ini mengandung keutamaan luar biasa untuk orang-orang yang memiliki salah satu, apalagi lebih, dari tujuh sifat ini. Yaitu adil, menjaga kebersihan diri sejak muda, sangat mencintai masjid, cinta karena Allah, mengingat Allah dalam keadaan sendirian, menjaga diri daripada zina, dan bersedekah tanpa mengharap sembarang pujian ataupun balasan.

Imam ahli hadist terbesar di Andalusia Al-Hafiz Ibn Abdil Bar dalam dua kitabnya Al-Tamhid dan Al-Istizkar mentakwil kalimat “Naungan Allah” yang disebutkan dalam hadist ini dengan “Rahmat Allah.” Sebab mustahil Allah SWT memiliki bayangan hingga manusia dapat berteduh di bawahnya.

Ahli hadist yang dikenal dengan gelaran Hafiz Al-Maghrib ini selanjutnya berkata, “Barang siapa yang berada di bawah naungan Allah, maka ia selamat dari kengerian hari kebangkitan dan segala sesuatu yang tengah menimpa manusia lain pada saat itu seperti rasa kuatir, stres dan (siksaan) keringat.”


Wasilah: Syafaat Terbesar      Setelah sekian lama berdiri di padang Mahsyar yang penuh derita itu, semua manusia sudah tidak mampu lagi menunggu. Mereka segera mendatangi nabi-nabi kekasih Allah agar mereka diperkenankan permintaan bagi Allah memulai hisab. Namun semua nabi-nabi, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Isa as, tidak ada yang berani mengabulkan permintaan itu. Mereka semua terlalu sibuk memikirkan kesalahan yang pernah mereka lakukan sehingga malu untuk meminta kepada Allah pada hari yang sangat menakutkan itu.

Para nabi dan rasul kemudian mengarahkan semua manusia supaya menemui kekasih Allah, pemilik wasilah dan syafaat terbesar, Baginda Muhammad SAW. Semua manusia kemudian melaksanakan anjuran tersebut. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Baginda segera berjalan ke arah Arasy lalu bersujud dan memuji Allah SWT dengan puja-pujian yang belum pernah beliau ucapkan sebelumnya. Allah SWT. lalu berfirman,“Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Mintalah, Aku akan mengabulkan.”Rasulullah SAW segera meminta untuk dimulai hisab.

Allah segera menurunkan perintahnya kepada semua malaikat, maka hisab yang sangat menentukan itu segera dimulai.
Read More ->>

Selasa, 31 Maret 2015

Sekilas Pengetahuan Tentang Konflik Di Yaman


01/4/2015 – Permasalahan di semenanjung Arab begitu kompleks tidak bisa dilihat dari sudut pandang di luar Timur tengah saja. Saya (pen.)seorang TKI di perusahaan minyak Qatar yang sudah cukup lama tinggal di Timur Tengah.

Silahkn saudara-saudara lihat latar belakang sejarah syiah di Islamic centre library, syiah itu bukan Islam melainkan sekte yang sudah lama ada di Persia (Iran, Irak) sebelum kedatangan Islam, namun dimunculkan kembali oleh Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang berpura-pura menjadi Islam ketika Rasulullah meraih kemenangan di Semenanjung Arab. Abdullah bin Saba mengadu domba orang-orang muslim ketika Rasulullah wafat dengan membenturkan pengikut Ali RA dengan muslim lainya yang nota bene Ali RA sudah menerima keKhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman.

Tidak hanya itu, Abdullah bin Saba pula yang melatarbelakangi pembunuhan Umar, Utsman, Ali, Perang Ali RA dengan istri Nabi, hingga terakhir terbunuhnya imam Hussain bin Ali RA.

Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi dari Yaman. Dia mengembangkan Sekte Syiah dengan berpedoman pada ajaran pokok-pokok Yahudi, Nasrani & Majusi.

Dia pula yang mengkultuskan Ali RA adalah nabi hingga akhir ini, Sekte Syiah sendiri terdiri dari beberapa golongan. Pengalaman ketika umrah, ada beberapa orang Syiah yang ingin melakukan kerusakan di kabaitullah ditangkap.

Mudah sekali mngetahui seseorang itu syiah atau bukan, ketika shalat mereka menggunakan sebuah batu yang dipercaya dari karbala atau dengan menepuk jidat sebagai isyarat, berdoa dengan menghujat sahabat-sahabat & istri-istri Nabi. Tidak ada shalat Jumat, memendekan shalat Dzuhur – Azhar, Maghrib-Isya.

Mereka tidak berpegang teguh pada Al-Quran & Sunnah karena mereka lebih mempercayai imam-imam mereka & kitab Syiah. Mereka hanya akan menggunakan Al-Quran & Hadits ketika berdebat.

Pendiri NU K.H Hasyim Ashari pernah mnyebutkan dalam buku karangan beliau yang mnyatakan Syiah itu bukan Islam, Buya Hamka yang pernah diundang seminar di Iran pernah didatangi organisasi kepemudaan syiah di hotel beliau menginap dan meminta Buya Hamka untuk menjadi pemimpin syiah & revolusioner Syiah di Indonesia, namun dengan tegas Buya Hamka menolaknya, karena beliau mengerti akan kerusakan Syiah.

Perkembangan Syiah di Indonesi selain dibawa ulama Iran, juga dibawa oleh pelajar-pelajar Indoneia yang belajar di Iran termasuk Ja**ludi* Ra**at (DPR RI F-P*I*).

Sekte Syiah di setiap negara disupport oleh Iran, jika jumlah mereka minoritas, mereka akan berbaur dengan muslim lainya. Ketika jumlah mereka mulai bertambah & dukungan dana dari Iran kuat, mereka akan mulai melakukan kerusakan, makar, contoh di Indonesia, mereka menyerang Majelis ust. Ari**n I**am, di Yaman mereka makar terhadap presiden yang sah.

Ketika mereka kuat, mereka dan menjadi presiden, mereka akan menghabisi muslim yang menurut mereka Sunni/Sunnah wal Jamaah seperti di Suriah. Syiah Iran terus berusaha membantu Syiah Irak menjadi kuat namun kekuatan Sunni & Syiah di Irak berimbang. Presiden Irak Syiah dan Parlemen Irak Sunni.

Di Iran anda akan mudah menemukan Sinagog (tempat ibadah Yahudi) ketimbang masjid Sunni. Anda akan dibayar pemerintah untuk berhubungn badan dengan wanita-wanita Iran tanpa perlu menikah, pelacuran yang dihalalkan, atau anda dapat menikah mut’ah. Itulah cerita singkat Syiah.

Aliansi Negara GCC (Arab Saudi, UEA, Bahrain, Qatar, Kuwait, Oman), Egypt, Pakistan, Sudan, Maroko, Jordan, menyerang pemberontak Syiah yang sudah dilatih pasukan Garda Republik Iran sehingga pemberontak ini sangat terlatih & dipersenjatai peralatan modern termasuk pesawat & rudal, karena militer Yaman sendiri sudah tidak mampu sehingga presiden sah Yaman meminta bantuan kepada aliansi Arab.

Pemberontak Syiah ingin menjadikn Yaman seperti Suriah. Tujuan Aliansi Arab adalah melindungi pengungsi Sunni, mengembalikan pemerintah yang sah, mencegah berkembangnya Syiah yang mendekati Arab Saudi yang memiliki 2 tempat suci umat Islam Madinah & Mecca.

Bantuan Syiah Iran sendiri diputus jalurnya oleh kapal selam Pakistan dimana kedua negara ini sama-sama memiliki nuklir.

Bagaimana dengan perjuangan muslim Sunni dalam melawan Rezim Assad Syiah di Suriah, kenapa aliansi Arab tidak melawan ?. Aliansi Arab tidak melawan karena Assad adalah presiden sah Suriah, namun aliansi Arab membantu dana & persenjataan Mujahidin.

Negara AU & kroni-kroninya tidak bisa menolak Aliansi Arab, karena mereka takut jika Islam bersatu. Negara AS seperta ular berlidah cabang, di satu sisi pro Aliansi Arab, di sisi lain ikut mendukung Iran meskipun secara sembunyi.

Kenapa Aliansi Arab tida melawan Israel di Palestine, Aliansi Arab banyak membantu Palestine dalam pendanaan rehabilitasi permukiman, militer, dan lain lain, namun tidak pernah dipublikasikan karena bukan pencitraan.

Brigade Hamas yang dulu berbeda dengan sekarang. Mereka lebih ditakuti oleh Israel saat ini, karena Hamas dilatih oleh pasukan khusus Jordan yang notaben pasukan khusus Jordan dilatih oleh Kopassus yang dibawa Prabowo.

Anda bisa lihat sejarah di j\Jerussalem Palestine, bagaimana Salahudin membebaskan Palestine yang terkenal dengan perang salib, yang dipicu oleh dibantainya ummat muslim di masjid.

Sejarah Israel perang dengan Mesir, Aliansi Arab, Pakistan. Israel tidak bisa dikalahkan karena mendapatakn dukungan dari negara AS & kroni-kroninya.

Jika Aliansi Arab perang dengan Israel bukan tidak mungkin akan terjadi Perang Salib berikutnya, karena semua yang terlibat merasa sebagai perang suci.

Bagaimana dengan Iran, kenapa tidak berperang dengan Israel?. Karena lebih mudah ditemukan Sinagong (tempat ibadah Yahudi) di Iran daripada masjid Sunni.

Bagaimana dengan Hizbullah Syiah, kenapa mereka tidak membantu Palestine ?. Karena mereka berbeda, mayoritas muslim Palestine Sunni. Perang terakhir Hizbullah dengan Israel bukan karena membantu Palestine tapi karena masalah ketersinggungan politik.

Bagaimana dengan Lebanon ?. Di Lebanon pemerintahan yang sah dipimpin oleh Sunni beserta milternya, sedangkan Hizbullah adalah Syiah yang didukung Iran. Dua kekuatan pasukan militer yang berimbang dalam satu Negara.

Bagaimana dengan pemerintah Indonesia dengan populasi muslim terbesar di dunia. Kenapa tidak membantu Palestine & Yaman?. Bagaimana dengan Anda yang mngatakan Aliansi Arab tidak membantu Palestine !. Anda sendiri juga tidak pernah ikut demonstrasi save Palestine di Embassy AS di Jakarta, ketika Hizbut Tahrir, PKS, KAMMI, NU, Muhammadiyah berunjukrasa “Save Palestine”.

Israel seperti Singapore, bagaimana jika Indonesia konflik dengan Singapore. Siapa saja yang akan membantu Singapore ?.

Bagaimana dengan ISIS ?. Seorang sahabat Pakistan berlatar belakang keluarga terhormat & terpandang dan seorang sahabat Qatar dimana keluarganya berdinas di militer, mengatakan ISIS adalah organisasi ciptaan AS, agar combatan Mujahidin seluruh dunia berkumpul di satu tempat. Jika pemimpin ISIS sejalan dengan AS mereka dibiarkan, jika sudah tidak sejalan akan dihabisi, sama seperti Al Qaeda yang mendapatkan didikan AS, karena sudah tidak sejalan maka dihabisi.

Bagaimana Syiah, ISIS, Al Qaeda, media-media nasional yang sudah dimiliki Yahudi, Misionaris di Indonesia ?. Silakan Anda simpulkan sendiri.

Salam hangat
Alumnus U*, Aktivis 98, Tukang Minyak di Timur Tengah

Redaksi:
Tulisan ini sensitif dan bisa memunculkan pro dan kontra. Namun materi ini menjadi bahan diskusi. Jika anda punya pemikiran yang lain, silakan diuraikan, untuk jadi olah pikir kita bersama. Salam.
Read More ->>